BudiPradono arsitek kelahiran Salatiga yang banyak meraih penghargaan internasional, salah satunya adalah Arcasia Architecture Awards 2016. Bangunan yang bernama “Dancing Mountain House” memiliki lima atap yang menyimbolkan sebagai gunung yang mengelilingi kota Salatiga, yakni Gunung Merbabu, Gunung Merapi, Gunung Andong, DancingMountain House adalah rumah karya arsitek Indonesia, Budi Pradono yang menerapkan modernisasi dalam penggunaan material bambu yang identik dengan desain tradisional. Desain unik dengan kekayaan material lokal ini berhasil mendapatkan penghargaan Arcasia Awards for Architecture 2016 sebagai karya residensial terbaik. BudiPradono was born in Salatiga in 1970, studied architecture at Duta Wacana Christian University, Yogyakarta, and completed his bachelor’s degree in 1995. Then, in 2003, he continued his study in Berlage Institute Postgraduate Laboratory of SobatSMF, Di dunia arsitektur, Indonesia seperti tak pernah kehabisan ide kreatif dari para arsitek terbaiknya. Salah satu yang mencuri perhatian adalah “Dancing Mountain House” karya Budi Pradono Architects, yang meraih penghargaan sebagai proyek residensial terbaik seantero Asia dalam Arcasia Architecture Awards (AAA) pada 2016. DancingMountain House – Budi Pradono. Arsitek Indonesia, Budi Pradono juga pula sukses menyabet bermacam apresiasi berkah ciptaannya yang luar lazim. Salah satunya merupakan Dancing Mountain House di pertandingan Arcasia Architecture Awards( AAA) 2016. Bukan gedung lazim, Dancing Mountain House digadang- gadang selaku cetak biru Indonesianstudio Budi Pradono Architects designed the house for a retired couple and their extended family in Salatiga, a small city on the island of Java. The home, which the architects called Dancing Mountain House, features five steep-pitched bamboo roofs topped with skylights, designed to reference the peaks of the surrounding landscape. 1 Dancing Mountain House, karya Budi Pradono berhasil meraih penghargaan sebagai residensial terbaik se Asia dalam Arcasia Architecture Awards (AAA) 2016. 2. Arcasia sendiri merupakan Dewan Arsitek Regional Asia yang dibentuk oleh 19 organisasi arsitek se-Asia mulai dari China hingga Pakistan. 3. DalamBudi Pradono Architects (BPA), karyanya berjudul P House atau Dancing Mountain House berhasil meraih penghargaan sebagai proyek residensial terbaik seantero Asia dalam Arcasia Architecture Awards (AAA) pada 29 September 2016. Kemenangan Dancing Mountain House itu berawal dari konsep sang arsitek yang mengedepankan peran arsitektur DancingMountain House Space programming Concept. - "THE TRANSFORMATION OF CONTEMPORARY ARCHITECTURE: A REINTERPRETATION AND UNDERSTANDING OF LOCAL GENIUSES" {Budi Pradono}, year={2018} } Budi Pradono; Published 2018; History; Throughout history, architects have experienced many struggles in the transformation of DancingMountain House Space programming Concept. Reprint from C3 Magazine No. 376 p. 163, 2013 All content in this area was uploaded by Budi Pradono on May 18, 2020 . Content may be subject j35Gn8. HomeSitesAuthoritiesCollectionsHomeSitesAuthoritiesCollectionsSearch Melalui proyek residensi Dancing Mountain House atau P House, arsitek kenamaan Indonesia Budi Pradono BPA-Budi Pradono Architects merefleksikan sensasi kebaikan hidup yang memeluk alam sekitar. Kreasi unik dari P House ini berhasil meraih penghargaan prestisius dari AAA Arcasia Award for Architecture 2016. Bertempat di Hongkong Convention and Exhibition Centre, Wanchai, Hongkong pada 29 September 2016, penghargaan diberikan kepada Budi untuk kriteria proyek residensi. Arcasia sendiri merupakan Dewan Arsitek Regional Asia, yaitu institusi yang dibentuk oleh 19 organisasi arsitek se-Asia, dari Tiongkok sampai Pakistan. Indonesia menjadi anggota tetapnya, diwakili oleh IAI Ikatan Arsitek Indonesia. Salah satu misi dari Arcasia dalam memberikan penghargaan adalah mempromosikan peran arsitektur di masyarakat, dan ini sesuai dengan spirit yang dihembuskan oleh Dancing Mountain House. Rumah keluarga yang terletak di Salatiga, Jawa Tengah ini selesai dibangun pada tahun 2014 dengan bantuan komunitas penduduk desa setempat. “Saya memilih untuk menggunakan metode merancang yang sesuai dengan kemampuan masyarakat setempat,” ujar Budi Pradono. Ia menambahkan, “Konstruksinya berbahan dasar bambu dengan atap rumah yang “meminjam” bentuk-bentuk puncak gunung yang mengelilingi kota dan pedesaan Salatiga, yakni Merapi, Telomoyo, Tidar, dan Andong.” Spirit tradisional dari para tukang otodidak yang terbiasa membangun rumah-rumah desa bertautan dengan pengetahuan arsitektural yang mumpuni dari seorang Budi Pradono. Hasilnya adalah perpaduan menawan antara material tradisional seperti bambu dan batu kali dengan sentuhan desain modern yang berlumur sofistikasi. Ruang-ruang rumah dibuat tidak bersekat borderless home dengan area sentral berupa ruang keluarga yang sekaligus juga menjadi ruang makan utama. Material-material di rumah lama yang ditransformasikan ke rumah baru, yang senantiasa menyuplai memori sarat intimasi dan romantika. Budi mendedikasikan rumah ini untuk almarhum ayahnya yang seorang pendidik dan pengajar di sebuah universitas lokal di Salatiga. Selain membangun ingatan kolektif bagi keluarga besarnya, Budi juga menggagas perpustakaan kecil untuk umum peninggalan ayahnya di kompleks rumah tersebut, yang bisa diakses oleh masyarakat setempat. Ruang-ruang rumah dibuat tidak bersekat borderless home dengan area sentral berupa ruang keluarga yang sekaligus juga menjadi ruang makan utama. Material-material di rumah lama yang ditransformasikan ke rumah baru, yang senantiasa menyuplai memori sarat intimasi dan romantika.